Garut, Jabadar.Com // Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni 2025, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Garut menyelenggarakan sebuah kegiatan istimewa yang sarat nilai kebangsaan dan semangat gotong royong. Acara yang bertajuk “Membumikan Pancasila, Tugas Seluruh Masyarakat” ini dikemas dalam bentuk sarasehan yang hangat dan penuh makna bersama warga Kelurahan Margawati. Kegiatan berlangsung di GOR Jungsang, Garut, pada Minggu pagi hingga siang hari.
Sejak pukul 07.00 WIB, semangat kebersamaan sudah mulai terasa. Para kader PDI Perjuangan bersama warga dan pemerintah daerah bahu membahu dalam kegiatan gotong royong membangun rumah untuk Emak Eja, salah satu warga yang membutuhkan uluran tangan. Pagi itu menjadi pembuka yang menggambarkan esensi dari nilai-nilai Pancasila yang tak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan secara nyata.
Bulan Bung Karno, Bulan Menyalakan Semangat Kebangsaan
Arie Maria Hasan, Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Garut, dalam wawancaranya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari instruksi DPP PDI Perjuangan untuk memperingati Bulan Bung Karno. Peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk merefleksikan nilai-nilai perjuangan Bung Karno yang relevan dengan kondisi bangsa saat ini.
“Kegiatan hari ini dimulai dengan gotong royong membangun rumah Emak Eja, lalu dilanjutkan dengan sarasehan bersama masyarakat. Ini adalah bentuk nyata dari upaya membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Arie dengan penuh semangat.
Sarasehan: Menyemai Kesadaran, Menyulam Persatuan
Sarasehan yang dimulai pukul 11.00 WIB menjadi ruang dialog antara masyarakat, aktivis mahasiswa, dan tokoh-tokoh lokal. Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari warga Margawati, kader GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), KAAMI (Komunitas Alumni Aktivis Mahasiswa Indonesia), serta perwakilan organisasi kemahasiswaan lainnya.
Dalam suasana yang penuh keakraban, para peserta diajak memahami kembali sejarah dan makna Pancasila. Diskusi ini bukan sekadar pengulangan teori, tetapi menjadi ruang untuk menggali makna Pancasila dalam konteks kekinian — bagaimana sila-sila Pancasila dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat, dari skala keluarga, lingkungan, hingga kehidupan berbangsa.
“Banyak pertanyaan muncul dari warga, terutama seputar bagaimana nilai Pancasila dapat diwujudkan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Margawati,” kata Arie. Menurutnya, semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat merupakan bukti bahwa nilai-nilai Pancasila sebenarnya telah lama menjadi bagian dari kultur bangsa.
Pancasila di Bumi Garut: Dari Wacana Menjadi Aksi
Acara ini menjadi pengingat bahwa Pancasila bukan sekadar ideologi di atas kertas, melainkan panduan hidup yang harus dihidupi oleh seluruh elemen bangsa. Di tengah tantangan globalisasi, arus informasi, dan perbedaan pandangan politik yang kerap memecah belah, Pancasila hadir sebagai titik temu yang mempersatukan.
“Membumikan Pancasila bukan hanya tugas partai politik atau pemerintah, tetapi tugas seluruh masyarakat. Dan itu bisa dimulai dari hal sederhana seperti gotong royong, saling tolong-menolong, dan menjaga persatuan di lingkungan sekitar,” tegas Arie.
Menjaga Api Pancasila Tetap Menyala
Kegiatan ini menjadi simbol bahwa semangat Bung Karno masih hidup di tengah masyarakat, dan warisan ideologisnya terus dijaga serta dilestarikan. Melalui kegiatan seperti sarasehan dan aksi nyata gotong royong, masyarakat Garut – khususnya warga Margawati – telah menunjukkan bahwa membumikan Pancasila bukan hal yang mustahil. Justru dari desa-desa, dari masyarakat akar rumput, nilai-nilai luhur bangsa ini dapat tumbuh kuat dan mengakar.
Dengan semangat yang menyala, kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain, bahwa memperingati Hari Lahir Pancasila bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi momentum untuk menyatukan langkah, memperkuat solidaritas, dan menghidupkan kembali nilai-nilai kebangsaan yang hakiki. (Rus)




