GARUT, Jabadar.Com // Upaya meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini dan pendidikan non formal di Kabupaten Garut terus digalakkan. Salah satunya melalui kegiatan Penyusunan Silabus Muatan Lokal PAUD dan Pendidikan Non Formal yang digelar oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Garut.
Kegiatan yang dihadiri lebih dari 250 peserta ini mempertemukan para pendidik dari lembaga PAUD serta pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Kepala Seksi PAUD Disdik Garut, Awat Setiawati, menjelaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pendidikan formal dan non formal. (10/09/2025)
“Alhamdulillah, kegiatan ini bisa menghadirkan teman-teman dari PKBM. Kita berkolaborasi dalam satu bidang untuk menyusun silabus muatan lokal yang relevan dan aplikatif. Harapannya, lembaga PAUD dan pendidikan non formal di Garut bisa lebih berkualitas, baik dalam perencanaan, proses, hingga evaluasi pembelajaran,” ujar Awat saat ditemui awak media.
Awat menegaskan, pendidikan non formal memiliki peran strategis karena berbasis masyarakat. PKBM yang lahir dari inisiatif warga dinilai mampu menjawab kebutuhan keterampilan, pemberdayaan, sekaligus kesejahteraan masyarakat.
“PKBM ini berasal dari masyarakat, untuk masyarakat. Banyak sekali praktik baik yang ditunjukkan. Contohnya PKBM Sadina yang sukses membuat kerajinan sapu dan beternak domba. Ada juga PKBM lain yang bahkan meraih prestasi hingga tingkat nasional lewat keterampilan menjahit. Itu bukti nyata bahwa pendidikan non formal bisa melahirkan kemandirian ekonomi,” jelasnya.
Menurut Awat, keberhasilan PKBM menjadi dorongan kuat bagi Dinas Pendidikan untuk menginisiasi penyusunan silabus muatan lokal. Silabus tersebut tidak hanya sebatas dokumen, melainkan akan diadaptasikan dalam praktik pembelajaran sehari-hari, bahkan ditularkan atau diimbaskan kepada lembaga lain agar manfaatnya lebih luas.
Penyusunan silabus muatan lokal sendiri bertujuan agar pembelajaran di PAUD maupun PKBM tidak hanya mengikuti kurikulum nasional, tetapi juga menyesuaikan dengan potensi lokal, budaya, dan kebutuhan masyarakat Garut.
“Dengan adanya muatan lokal, anak-anak dan warga belajar bisa memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Mereka belajar bukan hanya teori, tapi juga langsung praktik sesuai potensi yang ada di lingkungannya. Misalnya, kerajinan tangan, pertanian, atau keterampilan lain yang bisa membuka peluang usaha,” tambah Awat.
Kegiatan penyusunan silabus muatan lokal ini diharapkan tidak berhenti pada pertemuan semata, melainkan menjadi program berkelanjutan yang diperkuat dengan tindak lanjut nyata. Dinas Pendidikan berkomitmen memfasilitasi, membimbing, dan mendampingi satuan pendidikan PAUD maupun PKBM agar mampu mengimplementasikan hasil penyusunan silabus di lapangan.
“Ini bukan sekadar formalitas. Kami ingin kegiatan ini benar-benar bermanfaat dan dirasakan oleh peserta didik, baik anak usia dini maupun masyarakat yang belajar di PKBM. Intinya, pendidikan harus bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat Garut,” tegas Awat.
Dengan adanya langkah ini, diharapkan PAUD dan PKBM di Kabupaten Garut semakin solid dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, kontekstual, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di era saat ini. (Rus)




