GARUT, Jabadar.Com // Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut menyelenggarakan Sekolah Vertical Rescue bekerja sama dengan Vertical Rescue Indonesia. Kegiatan ini merupakan langkah nyata untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam penanganan evakuasi dan penyelamatan di medan ketinggian yang ekstrem.
Kepala Pelaksana BPBD Garut, H. Aah Anwar Saefuloh, saat wawancara oleh media Jum’at (11/09/2025) di halaman belakang kantor BPBD menyampaikan bahwa pelatihan ini digagas atas inisiasi Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlok) BPBD Garut bersama Vertical Rescue Indonesia yang dipimpin oleh Kang Tedi.
“Alhamdulillah atas kolaborasi ini, saya sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak, terutama Vertical Rescue Indonesia yang berkenan memberikan pelatihan kepada anggota BPBD, relawan, serta masyarakat. Kegiatan ini tidak menggunakan anggaran daerah, melainkan murni partisipasi dan kerja sama dengan Vertical Rescue Indonesia,” ungkap Aah.
Menurutnya, kehadiran pelatihan ini sangat penting, mengingat Garut memiliki medan geografis yang kompleks, mulai dari jurang, tebing, air terjun, hingga kawasan pegunungan. Situasi tersebut kerap menimbulkan risiko kecelakaan maupun bencana yang membutuhkan keahlian khusus dalam teknik penyelamatan di ketinggian.
“Melalui sekolah Vertical Rescue ini, kami berharap anggota dan relawan dapat terampil dalam melakukan evakuasi, misalnya jika ada warga yang jatuh ke jurang, tersangkut di pohon, atau kondisi darurat lain di medan tinggi. Dengan adanya tenaga terlatih, proses penyelamatan bisa lebih cepat dan aman,” jelasnya.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti oleh 44 peserta. Mereka berasal dari unsur BPBD, Forum Pengurangan Risiko Bencana, relawan, Tagana, Satpol PP Kabupaten Garut, hingga perwakilan dari beberapa kabupaten lain.
Menurut Aah, jumlah pendaftar sebenarnya mencapai ratusan orang, namun keterbatasan sarana dan lokasi pelatihan membuat panitia hanya bisa menampung 44 peserta.
“Ini sifatnya terbuka, antusias masyarakat sangat tinggi, tetapi kapasitas masih terbatas. Semoga ke depan kita bisa menggelar diklat yang lebih besar agar semakin banyak relawan yang mendapat bekal keterampilan,” kata Aah.
Instruktur sekaligus pimpinan Vertical Rescue Indonesia, Kang Tedi, menambahkan bahwa materi dasar yang diberikan adalah keterampilan bergerak aman di ketinggian.
“Peserta diajarkan cara naik, turun, hingga menyeberangkan korban di lokasi berbahaya. Latihan dimulai dari bangunan tinggi atau antena, kemudian diaplikasikan di medan nyata seperti jurang, tebing, hingga air terjun,” jelas Tedi.
Ia menegaskan bahwa keterampilan tersebut sangat relevan dengan kondisi alam Garut yang memiliki banyak medan ekstrem. “Wilayah Garut dari utara ke selatan, barat ke timur, hampir semuanya memiliki jurang, gunung, dan air terjun. Itu semua adalah medan tugas Vertical Rescue Indonesia,” tambahnya.
Dalam praktiknya, para peserta menggunakan peralatan standar penyelamatan, di antaranya tali, full body harness, cincin kail, bor untuk pemasangan pengaman di batu atau bangunan, hingga perlengkapan evakuasi korban dari jurang.
“Ini adalah standar peralatan vertical rescue. Peserta tidak hanya diajarkan teori, tetapi langsung praktek menggunakan peralatan agar terbiasa jika nanti diterapkan dalam situasi darurat,” kata Tedi.
Kegiatan ini menjadi sekolah Vertical Rescue pertama yang digelar di BPBD Garut, meski secara nasional telah memasuki angkatan ke-278.
“Ini pencapaian penting bagi Garut. Kita ingin SDM di seluruh pelosok kabupaten siap ketika menghadapi bencana atau kondisi darurat. Harapan kami, peserta yang ikut bisa menjadi pionir dan menularkan ilmunya kepada masyarakat luas,” pungkas Aah. (Rus)




