GARUT, Jabadar.Com // Dari sebuah sudut kecil di Kampung Samarang Kiara RT 03 RW 01, Desa Tanjunganom, Kecamatan Samarang, tersimpan kisah yang menyesakkan dada. Uti, seorang lansia renta yang kini mengidap penyakit kulit parah, hanya mampu berdiam diri di rumah. Bukan karena ia tak ingin berobat, tetapi karena kehidupan memaksanya pasrah ia tak memiliki biaya untuk sekadar pergi ke fasilitas kesehatan.
Uti menjalani hari-harinya dengan kondisi tubuh yang terus menurun. Kulitnya yang meradang kian menyiksa, sementara ia tetap bertahan dengan kesabaran tanpa batas. Ia tinggal menumpang di rumah orang bersama menantunya. Putra Uti, yang seharusnya menjadi sandaran, terpaksa bekerja di Bandung di sebuah pabrik kerupuk demi mencari nafkah.
Kondisi rumah yang ia tempati bukanlah miliknya. Semuanya serba terbatas. Namun ketabahan seorang ibu tua ini sungguh luar biasa. Meski hidup di tengah kesempitan, tak pernah sekali pun ia mengeluh pada siapa pun. Kesunyian rumah itu menjadi saksi perjuangan Uti melawan sakit dan keadaan.
Melihat kondisi tersebut, salah seorang warga yang tak ingin disebutkan namanya tergerak hati. Ia merekam video pendek tentang Uti dan mengirimkannya kepada Abah Muda 212, Ketua Pemuda Akhir Zaman, yang dikenal selalu turun langsung membantu warga miskin yang membutuhkan pertolongan.
Video itu akhirnya menjadi jalan bagi kisah Uti sampai kepada masyarakat luas.
Kepada awak media Jabadar, Abah Muda menyampaikan harapannya agar lebih banyak tangan terulur untuk membantu.
“Kondisi Ma Uti saat ini sangat memprihatinkan. Ia membutuhkan uluran tangan dari para dermawan juga perhatian dari pemerintah. Kita berharap Ma Uti bisa segera mendapatkan perawatan yang layak,” ujarnya.
Uti tidak meminta banyak. Ia hanya ingin sembuh, agar bisa melewati sisa hidupnya dengan sedikit lebih tenang. Harapannya sederhana: ada yang peduli, ada yang datang membantu.
Semoga kisah ini mengetuk hati siapa pun yang membacanya. Karena di balik rumah-rumah kecil di pelosok Garut, masih ada sosok seperti Uti yang diam-diam menanggung derita tanpa suara, menunggu kepedulian menjadi nyata. (Rus)




