GARUT, Jabadar.Com // Semangat kebersamaan dan kepedulian sosial mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-91 Rumah Sakit Paru Rotinsulu yang dirangkaikan dengan kegiatan Ngariung Bareng Rotinsulu dan khitanan massal gratis di Kabupaten Garut. Momentum tersebut juga ditandai dengan penandatanganan prasasti sebagai simbol penguatan operasional Klinik Utama Rotinsulu Garut.
Kegiatan yang berlangsung hangat ini menjadi ajang silaturahmi antara jajaran manajemen rumah sakit, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, serta masyarakat. Dalam suasana penuh kekeluargaan, Rotinsulu menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pelayanan kesehatan terbaik, khususnya dalam penanganan penyakit paru dan layanan kesehatan umum.
Sebanyak 30 anak dari berbagai wilayah di Kabupaten Garut mengikuti khitanan massal gratis sebagai bagian dari bakti sosial HUT ke-91. Seluruh peserta mendapatkan layanan medis tanpa dipungut biaya dengan pendampingan tenaga kesehatan profesional. Para orang tua mengaku sangat terbantu, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan ekonomi.
Direktur RSP Rotinsulu, dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S(K), MARS, menyampaikan bahwa di usia ke-91 tahun, rumah sakit rujukan pelayanan kesehatan paru tersebut terus bertransformasi dan memperluas jangkauan layanan hingga ke daerah.
“Momentum HUT ke-91 ini bukan sekadar perayaan, tetapi refleksi perjalanan panjang pengabdian kami kepada masyarakat. Dengan diresmikannya Klinik Utama Rotinsulu Garut, kami berharap pelayanan kesehatan yang berkualitas semakin mudah diakses oleh masyarakat Garut dan sekitarnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meski Klinik Utama Rotinsulu Garut belum lama berkiprah, progres pengembangannya menunjukkan hasil positif. Secara pribadi ia bergabung sejak 2020, sementara penguatan pelayanan di Garut berjalan lebih intensif sejak 2023.
Keberadaan layanan kesehatan paru di Garut dinilai memiliki urgensi tinggi. Pasalnya, kasus penyakit paru, termasuk tuberkulosis (TBC), di wilayah tersebut tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius. Program penanggulangan TBC pun saat ini menjadi prioritas nasional.
“Penanggulangan TBC menjadi concern yang sangat nyata. Kami ingin hadir membantu pemerintah dalam upaya eradikasi TBC melalui layanan yang komprehensif dan terjangkau,” katanya.
Terkait pengembangan fasilitas, manajemen menegaskan bahwa peningkatan status Klinik Utama menjadi rumah sakit harus mengikuti regulasi yang berlaku, termasuk pemenuhan sistem rujukan dan standar berbasis kompetensi. Ke depan, peluang penambahan layanan rawat inap juga terbuka, dengan catatan seluruh persyaratan administratif dan teknis, seperti instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dapat terpenuhi.
Dari sisi pembiayaan, seluruh layanan penyakit, termasuk TBC, dapat diakses melalui BPJS Kesehatan. Pihak manajemen memastikan komitmennya untuk terus memberikan pelayanan optimal, meskipun diakui masih terdapat sejumlah kendala administratif yang terus dibenahi.
Saat ini, Klinik Utama Rotinsulu Garut berfokus pada layanan penyakit paru, namun tetap melayani pasien umum. Selain spesialis penyakit dalam, manajemen juga merencanakan penambahan layanan spesialis anak guna memperluas cakupan pelayanan medis.
Dalam kegiatan tersebut, Bupati Garut turut melakukan penandatanganan prasasti sebagai simbol penguatan operasional Klinik Utama Rotinsulu Garut. Dengan menempati gedung baru yang lebih representatif, manajemen berharap pelayanan kesehatan dapat semakin optimal dan menjangkau lebih banyak masyarakat di Kabupaten Garut dan sekitarnya.
Kegiatan Ngariung Bareng Rotinsulu ditutup dengan doa bersama, disertai harapan agar Rotinsulu senantiasa menjadi institusi kesehatan yang terpercaya, inovatif, dan terus berkontribusi bagi pembangunan sektor kesehatan nasional. (Rus)




