GARUT, Jabadar.Com // Nama Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, kembali mencuri perhatian. Setelah Desa Pangauban meraih prestasi membanggakan sebagai Juara Pertama (Pinunjul Kahiji) Desa Berkinerja Terbaik pada ajang Anugerah Gapura Sri Baduga (AGSB) Tingkat Provinsi Jawa Barat 2025, kini Cisurupan bersiap menorehkan sejarah baru melalui perhelatan akbar bertajuk Garut International Kite Festival 2026.
Festival layang-layang bertaraf internasional tersebut dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 di Desa Kramatwangi, Cisurupan dan Balewangi Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Ajang ini diusung dengan tema besar: #GarutHebat #GarutEmas — “Hebat di Negeri Sendiri, Emas di Level Dunia.”
Festival tersebut diinisiasi dan diselenggarakan oleh Seemaul Global league, Presiden Layang-layang Indonesia dan PT Global 165 TBK bekerjasama dengan Pemda Garut. Nantinya akan menjadi Event Tahunan di Desa Kramat Wangi. Dimana saat ini Desa Kramat Wangi terpilih oleh Seemaul Global League NGO yang berpusat di Korea Selatan sebagai Desa di Kabupaten Garut yang akan didampingi menjadi Desa Emas.
Camat Cisurupan, Mamun, usai mengikuti ekspos di Kantor Bupati Garut, Kamis (26/2/2026), menyampaikan rasa bangga dan optimisme atas penyelenggaraan festival internasional tersebut.
Menurutnya, kehadiran Garut International Kite Festival 2026 menjadi momentum strategis untuk kembali memperkenalkan potensi Cisurupan ke panggung dunia.
“Festival berkelas dunia ini tentu akan mengangkat citra Kecamatan Cisurupan, bukan hanya di mata Kabupaten Garut dan Jawa Barat, tetapi juga di mata dunia,” tegas Mamun.
Ia mengingatkan bahwa Cisurupan pada masa lalu pernah menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan mancanegara. Kini, melalui festival internasional layang-layang, nama besar kawasan ini kembali diperkenalkan ke komunitas global.
Tepas Papandayan dan Gunung Papandayan Jadi Magnet Utama. Lokasi festival yang berada di kawasan wisats Tepas Papandayan dinilai sangat strategis karena berdekatan dengan destinasi unggulan, yakni TWA Gunung Papandayan, selain tentunya memiliki potensi daya tarik alam yang luar biasa.
Gunung Papandayan bisa menjadi destinasi alam berkelas dunia dengan beragam daya tarik wisata, di antaranya:
* Kawah Emas
* Kawah Nangklak
* Padang Edelweis
* Hutan Mati
Serta fasilitas akomodasinya. Mamun menegaskan, seluruh potensi tersebut sangat layak dipasarkan kepada wisatawan mancanegara. Bahkan, kawasan Papandayan sejak dahulu telah menjadi konsumsi wisata turis asing.
“Kita berharap peserta dari berbagai negara yang hadir nanti tidak hanya mengikuti festival, dan menikmati daya tarik wisata dan kuliner yang disajikan Tepas Papandayan tetapi juga melakukan kunjungan wisata ke TWA Papandayan, repeat visitor dan menjadi agen promosi di negara masing-masing,” ujarnya.
Dalam memetakan prospek pariwisata Cisurupan, Mamun mengibaratkan kawasan tersebut seperti tata surya dengan TWA Gunung apandayan sebagai planet terbesarnya.
“Kalau diibaratkan tata surya, Pendopo itu titik nol, pusat tata surya atau mataharinya wisatanya tetapi planet-planet wisatanya minimal empat harus ada di Cisurupan,” jelasnya serta 5 planet wisatanya biarkan ada di luar Kecamatan Cisurupan. Sementara seperti kedai-kedai, Cafe, Dongen The Racing, rumah makan dan usaha jasa akomodasi serta usaha wisata yang lainnya dapat diibaratkan sebagai satelit pariwisatanya.
Saat ini, dua “planet” utama telah ada, yakni TWA Gunung Papandayan dan Tepas Papandayan, meskipun perlu pengembangan lebih lanjut menjadi kawasan wisata Tepas papandayan. Saat ini, pihaknya berusaha membangun inspirasi warga Cisurupan dalam setiap kesempatan dengan ide-ide tersebut serta menjalin komunikasi dengan investor dalam pengembangan wisata di wilayah Kecamatan Cisurupan sehingga mudah2an terlahir 2 planet wisata baru besar yang bisa di branding dengan nama Teras Papandayan dan Alas Papandayan agar ekosistem wisata di wilayah Kecamatan Cisurupan semakin kuat dan terintegrasi. Jika itu terjadi tidak mustahil Wilayah Kecamatan Cisurupan semakin kuat Brand Wisatanya. Sama halnya seperti orang luar lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Begitu juga dengan wisata Garut identik dengan Cisurupan.
Peserta dari 10 Negara dan Berbagai Provinsi
Garut International Kite Festival 2026 dipastikan akan diikuti peserta dari berbagai negara, antara lain:
Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Swedia, Polandia, Jepang, Swiss, Belanda, Vietnam, Jerman.
Selain itu, peserta tingkat nasional juga akan hadir dari berbagai daerah seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, Bali, Yogyakarta, Lampung, Kalimantan, dan Jawa Tengah.
Partisipasi internasional ini menegaskan bahwa festival tersebut bukan sekadar agenda hiburan, melainkan event promosi wisata berskala global yang berpotensi mendongkrak sektor ekonomi kreatif, UMKM, serta okupansi perhotelan di Garut.
Keberhasilan Desa Pangauban di ajang Anugerah Gapura Sari Baduga menjadi bukti bahwa Cisurupan bukan hanya kuat dari sisi potensi alam, tetapi juga tata kelola pemerintahan desa.
Kini, kombinasi antara prestasi desa dan event internasional menjadi paket lengkap bagi kebangkitan Cisurupan.
Jika konsisten dikelola dan dipromosikan secara masif, bukan tidak mungkin Cisurupan kembali menjadi gerbang wisata dunia di Kabupaten Garut—mewujudkan Garut Hebat di negeri sendiri dan emas di level dunia. (Rus)




